“Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mendatangkan
ke atas mereka malapetaka yang tidak dapat mereka hindari, dan apabila mereka
berseru-seru kepada-Ku, maka Aku tidak akan mendengarkan mereka.” Yeremia 11:11.
Mungkin isi pasal alkitab ini yang paling dicari-cari bagi orang yang menonton
Us. Film bergenre horror kedua arahan Jordan Peele ini terhitung sukses
dipasaran lantaran respon penonton cenderung positif.
Adegan awal film ini
menggambarkan potongan-potongan acara televisi tahun 80an dan sebuah iklan
“Hands Across America” yang berisi kampanye untuk meningkatkan kepedulian
terhadap kelaparan di Amerika Serikat. Kampanye tersebut mengajak rakyat
Amerika untuk bergandengan tangan mengelilingi Negeri Paman Sam sehingga
terbentuk rantai manusia.
Alkisah Adelaide kecil (Lupita
Yong’o) berlibur ke pantai Santa Cruz pada tahun 1986. Secara tidak sengaja si
kecil Adelaide tersesat dan masuk ke funhouse
. Ditengah ketakutannya di dalam ruangan yang dipenuhi kaca yang membingungkan,
Adelaide bertemu sesosok anak kecil yang serupa dengannya. Adelaide yang trauma
dibawa ke psikolog oleh kedua orang tuanya karena diduga terserang depresi dan
kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Adegan selanjutnya berkisah
tentang masa kini, ketika Adelaide sudah tumbuh menjadi seorang ibu rumah
tangga dengan suaminya Gabe Wilson (Winston Duke) dan 2 orang anak, Zora
(Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex). Keluarga Wilson berlibur musim
panas ke rumah masa kecil Adelaide di Santa Cruz.
Keesokan harinya, mereka
sekeluarga pergi ke pantai bersama keluarga Tyler yang juga tinggal
bertetanggaan dengan keluarga Wilson. Sebenarnya sendari awal liburan ini
Adeilade terus menerus terbayang akan traumanya semasa kecil. Terlebih lagi
ketika di pantai, Jason anak bungsunya sempat menghilang walaupun akhirnya
ditemukan dengan selamat.
Malam itu didepan pekarangan
rumah keluarga Wilson terlihat 4 orang
asing yang berdiri bergandengan tangan. Gabe mencoba mengusir mereka dan menakut-nakuti,
namun ternyata keempat orang asing tersebut justru balik menyerang dan menyerbu
masuk ke dalam rumah keluarga Wilson dari berbagai arah.
Didalam rumah tampak jelas siapa
sebenarnya keempat orang tersebut. Mereka adalah doppelganger atau mahluk yang mempunyai wajah persis dengan anggota
keluarga Wilson. Yang membedakannya adalah wujud mereka yang intimidatif dan aneh.
Red adalah Adelaide dengan wajah tegang dan suara parau yang terbata-bata.
Abraham adalah Gabe dengan jenggot yang lebat dan berperangai agresif, Abraham
berhasil memukul kaki Gabe sehingga Gabe berkesusahan untuk berjalan.
Umbrae adalah Zora yang terus
menerus tersenyum dengan kepala menunduk. Dan terakhir adalah Pluto yang
menyerupai Jason tetapi wajahnya tertutup topeng dan berkelakuan seperti hewan
berkaki empat.
Babak selanjutnya film Us
menyajikan bagaimana keluarga Wilson mati-matian menyelamatkan nyawa. Para
tiruan yang mengenakan baju seragam merah
dan masing-masing membawa gunting silih berganti membawa teror untuk tiap
anggota keluarga Wilson. Tidak berhenti sampai disini, ternyata “tiruan
berwujud buruk ini juga muncul diseantero Amerika Serikat”, mereka muncul ke
permukaan dan membunuh Sang Tubuh asli.
Ternyata para mahluk buruk rupa
ini bermunculan dari dunia bawah tanah yang merupakan cermin dari kehidupan
atas, hanya saja kondisinya seperti rumah sakit jiwa. Misalnya saja, adegan
orang-orang makan di restoran cepat saji, maka di dunia paralel bawah tanah
para bayangan jahat sedang mengunyah kelinci mentah sambil belepotan darah
segar. Ketika orang-orang didunia atas sedang bermain roller coaster, maka para bayangan berpura-pura bermain, bertingkah
laku seperti anak kecil berimajinasi naik roller
coaster.
Cara penuturan berkesan seperti
potongan-potongan puzzle dalam film
Us. Setiap potongan dihadirkan untuk
menyisakan pertanyaan baru seiring berjalannya film. Seperti adegan
menonton iklan “Hands Across America” saat Adelaide kecil, lalu sekumpulan
kelinci di dalam kandang yang disusun secara masif dan kemunculan lelaki
misterius yang membawa papan bertuliskan Jeremiah 11:11.
Film horror memang sering
menampilkan unsur misteri yang mengganggu untuk membangun intens penonton.
Rupanya kemampuan ini yang membuat Jordan Peele sukses membawa film horror
sebelumnya, Get Out (2017)untuk memenangkan penghargaan Best Original
Screenplay. Jordan Peele, seorang sutradara yang juga terkenal sebagai aktor,
produser dan komedian akhir-akhir ini kerap mendapat penghargaan. Film karyanya
kerap berhubungan dengan masalah rasialis atau isu sosial lainnya.
Us bukan film Horror yang mudah
dicerna, untuk menikmatinya hilangkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan
dengan logika. Toh, memang sejak dari bagian tengah film ini, setidaknya narasi
yang ditawarkan sudah tidak sesuai dengan logika umum. Boleh saja atau dengan
sengaja Us membawa ekspektasi
penonton untuk menghubung-hubungkan tema film ini dengan isu sosial juga. Judul
Us sendiri bisa diartikan “kita” atau
U.S atau United State, dan memang Peele sendiri mengakui judul tersebut memang
memiliki makna ganda.
Wujud dari manusia kembar dari
bawah tanah seolah metafora dari kaum yang tertindas. Terlihat dari seragam
yang sama, yang kemudian dijelaskan dalam film bahwa mereka memang hasil dari
proyek uji coba pemerintah yang diabaikan. Selebihnya seperti gunting yang
dimiliki tiap bayangan mungkin saja berarti perkakas umum untuk kaum buruh
industri. Apakah mungkin Jordan Peele sekarang sedang memfokuskan visinya
tentang masalah perbedaan kelas, seperti halnya Karl Marx? Entahlah.
Hal menarik lain dari film ini
adalah plot twist terakhir bahwa
ternyata Adelaide yang selama ini adalah bayangan yang berhasil keluar dan
beradaptasi. Sedangkan Adelaide kecil akhirnya harus menggantikan peran
bayangan dengan tetap tinggal di institusi bawah tanah yang menakutkan.Film ini
juga menggambarkan secara jelas bagaimana Adelaide palsu yang tinggal diatas
menjadi sangat normatif sedangkan Adelaide asli yang selama berpuluh tahun
tinggal dibawah telah berubah menjadi sosok yang kejam dan penuh kemarahan.
Jordan Peele nampaknya hendak menyampaikan bahwa siapapun individunya, yang
terpenting adalah kesempatan dan kondisi lingkungan yang menentukan identitas
seseorang. Tidak tertinggal, berbagai simbol-simbol dihadirkan oleh Peele
sebagai kritik pada pemerintah Amrik,
tentu saja dari perspektif warga kulit hitam Amerika serikat yang lengkap
dengan stereotipnya.
Comments
Post a Comment