“Segala sesuatu diciptakan untuk
tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik.” Kira-kira
kalimat ini yang acap kali dikumandangkan oleh Pangloss, seorang guru dalam
dongeng Candide. Novel tersebut dikarang oleh Voltaire, seorang filsuf dari
Prancis pada jaman pencerahan kiranya masih relevan dengan kondisi masyarakat
kita yang selalu serba nrimo.
Alkisah Candide adalah seorang
pemuda lugu yang tinggal di sebuah istana indah Westphalen, German. Candide muda
sangat terpesona oleh ajaran gurunya, Pangloss. Beliau merupakan ahli yang
terus menerus mengajarkan nilai-nilai optimisme dalam hidup. Setiap jalan hidup
pasti ada hikmahnya dan apapun yang terjadi adalah suatu rencana terbaik.
Cerita petualangan Candide
berawal dari kehidupan istana Westphalen yang serba mewah dan damai. Baron
penguasa istana tersebut memiliki anak wanita yang cantik jelita bernama
Cunegonde. Candide yang polos jatuh hati pada Cunegonde yang sungguh rupawan.
Pada suatu ketika Candide dan
Cunegode yang juga masih lugu terhanyut dalam suasana mesra hingga akhirnya berciuman.
Malang bagi mereka, Baron penguasa istana memergoki mereka dan langsung
mengusir Candide dan menghukum anak perempuannya, Cunegode.
Candide yang polos menderita
karena terusir dan harus meninggalkan hidupnya yang nyaman di istana. Sambil menangis karena tidak tahu harus pergi kemana, Candide terus
berjalan dan hidup seperti gelandangan.
Secara tidak sengaja Candide
sampai ke daerah Bulgaria, disana dia langsung ditangkap dan mendapat siksaan
dari tentara namun nyawanya masih terselamatkan oleh belas kasih Raja Bulgaria.
Rupanya Kerajaan Bulgaria sedang berperang dengan Prancis. Dalam masa
peperangan yang bengis, Candide terpaksa menyaksikan kekejaman tentara yang
membunuhi rakyat sipil.
Nasib mempertemukan Candide
dengan guru Pangloss yang begitu dipujanya. Pangloss ternyata telah jatuh
miskin dan menjadi pengemis buruk rupa. Darinya Candide mendengar bahwa
Cunegonde sang pujaan hati telah mati diperkosa dan dibelah perutnya oleh
tentara Bulgaria.
Petualangan Candide dan Pangloss
berlanjut menuju Portugis. Malang tak dapat ditolak, ketika kapal yang mereka
tunggangi hampir sampai di pelabuhan Lisabon, badai topan memporak-porandakan
kapal hingga karam. Baru saja Candide dan gurunya sampai dipinggir pantai
Lisabon, kota tersebut dilanda ombak tinggi
yang disebabkan oleh gempa besar. (Pada tanggal 1 November 1755 terjadi gempa
bumi di Lisabon, Portugis yang menewaskan 20.000 orang)
Kisah selanjutnya menceritakan kemalangan
Candide yang selalu datang bertubi-tubi. Ada kalanya Candide dikisahkan
terselamatkan dari tiang gantung, lalu secara tidak sengaja bertemu dengan
Cunegonde yang disangkanya sudah mati dibunuh namun ternyata masih hidup dengan
segala luka bekas penyiksaan.
Petualangan Candide, Pangloss dan
Cunegode terus menerus berlangsung melewati berbagai negara seperti Paraguay,
menemukan kota emas Eldorado, Suriname, Prancis, Inggris, Venesia dan Istanbul.
Cerita petualangan ini kadang terlihat begitu beruntung seperti pada bagian
menemukan kota emas Eldorado. Namun langsung saja disambung dengan sederetan
kisah sial lainnya.
Sepanjang petualangan Candide yang lugu selalu diselipi
dengan kalimat-kalimat optimisme dari guru Pangloss, bahwa apapun kesialan yang
mereka alami semuanya adalah baik belaka. Hingga akhirnya Candide berhasil
bertemu satu persatu kenalannya yang disangka sudah mati dan ternyata masih
hidup. Masing-masing tokoh tersebut selamat dengan bersusah payah meloloskan
diri dari ancaman kematian.
Pada sebuah daerah terpencil di
daerah pantai Propontide, Transylvania kelompok kecil Candide akhirnya
berkumpul bersama dan saling bertukar cerita dan pengalaman. Dialog antara
Candide dan guru Pangloss tentang apakah semua yang mereka alami masih bisa
dianggap sebagai keberuntungan sedikit demi sedikit berubah menjadi pertanyaan
filosofis yang sukar dijawab.
Pangloss terus menerus meyakinkan
Candide bahwa segala kesialan dalam kehidupan mereka walaupun harus menanggung
segala kecacatan fisik dan derita mental yang berat adalah sebuah keberuntungan
mutlak yang membawa mereka berkumpul kembali. Novel ini ditutup dengan dialog
antara Pangloss dan Candide. Pangloss berargumen panjang lebar bahwa “Jika kamu
tidak begini dan begitu, tentu kita tidak mungkin ada disini berkumpul bersama.”
Dari setiap argumen tersebut, Candide tidak menyangkal argumen Pangloss dan berujar
“Memang benar sekali, namun kita harus mengerjakan kebun kita.”
Gaya bercerita novel Candide ini
terasa begitu cepat dan padat. Satu peristiwa langsung saja disambung dengan
adegan lain yang seolah tanpa jeda. Cara bercerita yang mengalir begitu deras
tanpa narasi indah untuk membawa emosi. Hal ini membuat novel Candide terasa
hambar dan terasa begitu enteng menggambarkan suasana derita yang hebat.
Cerita Candide bisa dikategorikan
sebagai karya novel satire yang sarat kritik untuk Gottfried Leibniz, seorang filsuf
polymath Jerman yang mempunyai
pemahaman yang mirip dengan Pangloss. Selain itu novel Candide juga mengkritik
para bangsawan yang gemar bertindak otoriter.
Cerita yang hiperbolik dan
penggambaran karikatural terkadang terasa ganjil namun sekaligus menawarkan
sisipan humor. Bisa dibilang humor yang ditawarkan novel Candide mirip dengan
kesan dark humor pada masa kini.
Terlepas dari gaya bertutur Voltaire yang begitu lurus dan tidak berirama, pada
novel Candide, Voltaire bermaksud untuk menyampaikan pandangannya tentang
filosofi kehidupan.
Bagaimana pun tentang kehidupan
yang berat ini, suka maupun duka semuanya tetap harus dijalani. Pada akhirnya
yang terjadi terjadilah, kita tidak mungkin bisa merubahnya lagi. Yang terutama
dalam hidup adalah terus menerus berjuang dengan analogi “mengerjakan kebun
kita”.
Voltaire dikenal sebagai bapak
revolusioner dari Perancis yang membawa paham liberalisme. Idenya dalam cerita
Candide mengajak kita untuk terus berjuang dan tidak terikat oleh hierarki
sosial yang terhegemoni oleh kaum aristokrat dan agamawan.
Boleh saja kita merasa kedekatan
pengalaman hidup kita sama dengan apa yang dialami oleh si lugu Candide. Atau
bisa juga kita merasa cerita Candide terlalu sarat akan kritik antara pandangan
optimisme dan pesimisme.
Tetapi satu hal yang menarik dari
cerita Candide adalah pada bagian akhir diterangkan bahwa apapun yang terjadi c'est la vie! Hidup ya hidup, akan terus
bergulir sampai akhir hayat. Kita bisa memilih untuk menerima nasib dan
termenung atau bangkit untuk berusaha.
Terkadang dalam suasana sedih
yang pasti kita alami dalam hidup, semua terasa buntu. Sukar untuk menentukan kadar kesedihan, karena hal tersebut sangat personal. Bisa saja problem pelik bagi seseorang bukan halangan bagi orang lain.
Voltaire dengan paham
liberalismenya mengajak kita untuk mempertanyakan dan bahkan menabrak segala
rintangan untuk berpikir bebas. Agaknya tidak berlebihan apabila ada pendapat
yang menyatakan bahwa Voltaire merupakan batu penjuru abad pencerahan.
Karena melalui pemikiran
Voltaire, manusia diajak untuk kembali mempertanyakan, mengalami dan
memperjuangkan segala rintangan hidup.
Bandung, 5-10-2018
Comments
Post a Comment